Kamis, 03 September 2015

LAGENDA PULAU TUJUH ATAU DI SEBUT PULAU NATUNA ATAU DI SEBUT PULAU BUNGURAN

Menurut legenda, penghuni pertama Pulau Natuna Besar adalah Demang Megat. Alkisah, ada seorang anak yang terbawa hanyut sebatang kayu. Anak itu, menurut kisah, berasal dari Siam (Thailand). Kala itu pulau tersebut belum bernama.

Air laut yang menghanyutkan kayu itu kemudian mendamparkannya di sebuah pulau. Entah atas kekuatan dari mana tiba-tiba anak itu berubah besar dan berbulu. Dialah yang kemudian disebut Demang Megat. Oleh Wan Tarhusin (Budayawan Provinsi Kepri), warga Natuna yang mengisahkan legenda itu, Demang Megat juga memiliki kekuatan dan kesaktian. 
Demang Megat, yang menjadi penghuni pertama Pulau Natuna Besar itu, kemudian menikah dengan seorang putri Kerajaan Johor bernama Engku Fatimah. Kala itu Engku Fatimah tengah berlayar menuju gugusan Kepulauan Natuna dan kemudian mendarat di pantai Pulau Natuna Besar. Di bawah sebuah pohon besar bernama bungur di pulau itulah Engku Fatimah bertemu dengan Demang Megat. Karena saling terpikat, mereka kemudian menikah dan tinggal di pulau itu. 

Dari nama pohon tempat pertemuan antara Engku Fatimah dan Demang Megat itulah tanah atau pulau itu kemudian disebut Bunguran. Pernikahan itu berjalan langgeng dan merupakan berkah bagi Engku Fatimah. 
Sebelumnya ia telah 40 kali menikah, tetapi tak berapa lama setelah menikah suaminya selalu meninggal. 


Hanya bersama Demang Megat perkimpoian Engku Fatimah bisa langgeng. Oleh Kerajaan Johor, Demang Megat kemudian digelari Datuk Kaya. ”Gelar itu diberikan untuk yang pertama kalinya, dan gelar itu merupakan gelar tertinggi".


Sampai Saat sekarang Keturunan Dotok kaya masih ada dan banyak mendiami Pulau-pulau di sekitarnya. Sekarang Pulau tersebut biasa di sebut Pulau Ranai atau Pulau Bunguran Timur. untuk mengetahui keturunan Datok Kaya dapat di lihat dari nama-nama keturunan Beliau yang berawalan "Wan" seperti contoh; Wan Naziharuddin, Wan Leri, Wan Desrita Ria, Wan Muhammad Nur dan Banyak lagi anak cucu, cicit yang menggunakan nama dengan berawalan "Wan". 

Editing: Wan Naziharuddin,S.Sos (September 2015)

Tidak ada komentar: