Kamis, 11 Desember 2014

ANALISA KRITISNYA KEPEMIMPINAN WALIKOTA TANJUNGPINANG

10 Desember 2014 ~> Anggota Gerakan Masyarakat Peduli Daerah (GEMA PADAH) PROV.KEPRI Melakukan Pendekatan pada Masyarakat Kel.Tanjung Unggat Kecamatan Bukit Bestari. Misi Anggota GEMA PADAH kali ini ingin mengetahui Pendapat Masyarakat Terhadap KINERJA WALIKOTA TANJUNGPINANG. Dari hasil pendekatan secara langsung terhadap Masyarakat di Wilayah Kelurahan Tanjung Unggat, bermunculan Persepsi Negatif yang muncul dari benak masyarakat terhadap Kinerja Walikota Tanjungpinang. Menurut Masyarakat Tanjung Unggat yang mayoritas tingkat ekonomi paling bawah dalam strata sosial, Walikota Tanjungpinang yaitu Lisdarmansyah banyak meninggalkan janji-janji Politiknya terhadap mereka. Hal ini tidak di jelaskan secara empirik apa janji-janji sang Penguasa ini Terhadap Masyarakat, Tetapi sudah dapat di Pastikan dari Pengakuan Segelintir kelas ekonomi bawah ini sudah menunjukan bahwa terdapat kekesalan masyrakat terhadap Penguasa Kota Tanjungpinang. 

Anggapan masyarakat LISDARMANSYAH sebagai Walikota Tanjungpinang hanya banyak mengurusi kepentingan Kelompok Segolongan (Kelompoknya/Partai) di bandingkan Masyarakat Secara Umum. jika kami Mengkaji secara Teoritis, Resiko Kepemimpinan yang yang di lakoni Walikota Tanjungpinang yaitu Lis Darmansyah merupakan Gaya Kepemimpinan Ketua. 

Menurut Nazi dalam Karya Ilmiahnya yang berjudul "Paradikma Kepemimpinan Ketua dan Kelemahannya" (8;2014) menjelaskan bahwa Paradigma Kepemimpinan di Indonesia, di era saat ini di anggap sudah sangat kritis dan telah terjadi krisis Kepemimpinan. Adapun Permasalahan Kepemimpinan kebanyakannya adalah dalam mengambil Keputusan. Kebanyakan Keputusan yang di ambil dari seorang Ketua sebagai Pemimpin di satu organisasi sering sekali berimbas kepada Etika kepemimpinannya. Sebenarnya apa yang jadi penyebab hal-hal ini berlarut-larut. 

Sesungguhnya dari pengamatan kami Kasus di ambil dari Kepemimpinan Walikota Tanjungpinang ini, Etika Kepemimpinannya sudah di ambang batas Kewajaran. mulai dari Masyarakat Tanjungpinang sampai dengan aparatusnya (PNS) sendiri Mengeluhkan Kepemimpinannya. Keputusan yang Selalu di ambil Lis Darmansyah sebagai Walikota Sangat-Sangat Terlalu menunjukan AROGANSI KEKUASAANNYA, Menganggab dengan Memiliki Jabatan Sebagai Walikota Semua Keputusan dapat di ambil sesuka hatinya. ini merupakan satu Fakta bahwa Kepemimpinan Walikota Tanjungpinang Berprospek pada KEKUASAAN Makanya sudah layaklah dia di sebut Penguasa, Tetapi bukan Pemimpin yang di idam-idamkan Mayarakat (Mengayomi Masyarakat).

PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN SUDAH SANGAT PESAT, pada era ini Kepemimpinan di anggap satu Profesi hal ini sesuai yang di katakan oleh   Lynn(Wirawan; 97:2014) Profesi kepemimpinan dalam satu organisasi sangat penting. Karna profesi Kepemimpinan akan menyajikan layanan-layanan terkusus (esotericservis). Layanan-layanan terkusus ini di sajikan oleh seorang yang mempunyai ilmu pengetahuan (esoterikknowledge). Maka dengan ini seorang Pemimpin mesti memiliki IlmuPengetahuan yang luas, antara ilmu pengetahuan yang di maksud adalah seperti Ilmu Majemen dan Ilmu Psikologi. Dengan penguasaan ilmu pengetahuan makaseorang pemimpin dapat mengetahui kebutuhan-kebutuhan masyarakatnya.

Sebenarnya kasus yang terjadi di Kota Tanjungpinang ini sungguh fatal sekali. para Masyarakat, Pejabat Daerah sampai dengan mahasiswa yang di anggab sebagai aktifis atau kaum-kaum terpelajar juga dimanjakan dengan janji-janji mulai dari materi, posisi atau kebendaan lainnya. sukurnya dari banyaknya aktifis yang kami jumpai tidak berani menceritakan apa saja janji-janji yang pernah di ungkapkan oleh penguasa kota Tanjungpinang. tetapi tidak menjadi masalah bagi kami, hal ini tidak menyurutkan semangat kami untuk membuka kedok sang Penguasa. menurut kajian yang kami lakukan dapat membuka mata masyakat Kota Tanjungpinang dengan kezoliman dari Kritisnya gaya Kepemimpinan Seorang walikota Tanjungpinang yang mengadopsi Kepentingan Kekuasaan ketimbang Profisionalisme sebagai Pengayom Masyarakat.

Tidak ada komentar: